Logika Kebebasan yang Salah Kaprah
Masalah agama, sejujurnya saya
tidak begitu mengerti agama, saya ke tempat suci agama apabila ada
pernikahan atau kematian saja. Teman-teman saya di Eropa sering kali
menghubungi saya untuk meminta penjelasan tentang agama, khususnya agama
tertentu di Indonesia, teman saya mengatakan mereka tertarik dengan
ketenangan dan kedamaian hati orang yang punya agama, tapi saya tidak
tahu agama.
Jadi alangkah baiknya juga
teman-teman jangan terlalu menyepelekan agama. Menurut saya agama punya
konsep yg transenden tapi tidak mampu dijelaskan secara rasional, saya
juga sudah mulai tertarik, makanya saya telah mengurangi seks bebas
saya, karena jujur itu menyenangkan tapi tidak terlalu mendamaikan, apa
yang saya cari dalam hidup ini? seks hanya seperti makan dan minum, kita
akan makan dan minum hanya ketika kita lapar atau haus, tentu makan dan
minum tidak mendamaikan jiwa dan itu hanya mendamaikan nafsu saja. Hal
itu juga menjadi pertanyaan yang ditanyakan oleh teman Eropa saya,
makanya sampai sekarang agama tetap bertahan kuat di Eropa, meski mereka
athies. Dalam agama orang tua saya, Tuhan sudah memaafkan saya setelah
mengakuiNya. Agama telah melampui ribuan tahun, mungkin agama telah
melampui jutaan orang yang berpikir seperti saya dalam ribuan tahun
juga.
Mari kita bayangkan ada hari
telanjang bersama di Indonesia, bagi akal saya itu tidak ada salahnya,
kecuali akal anda menyatakan itu salah, namun hal itu tidak berpengaruh
kepada akal saya, karena akal anda mungkin tidak lebih baik dari akal
saya. saya juga tidak terlalu paham agama, menurut saya agama masih
ciptaan manusia. Walau saya akui seperti diatas ada hal-hal transeden
yang saya tidak mengerti dari sana.
Kebebasan seks juga akan membuat
bangsa ini senang, dan tidak perlu susah lagi mengatur masalah itu,
saya juga menentang pernikahan, akal sehat kita mengatakan pernikahan
adalah munafik, tidak baik bagi kemajuan manusia. Kita harusnya
mencontoh kebebasan natural alam, seks seperti para hewan adalah
kebebasan sejati, kita jangan dikekang dengan pernikahan yang hanya akan
mengekang kita untuk berkreasi dalam seks, itu mengekang hak azasi
kita. Tapi sampai sekarang saya masih gagal, masih ada gejolak dalam
diri saya. Setelah selesai kuliah saya pulang ke tanah air, sampai
beberapa tahun terakhir saya masih melakukan kebebasan itu, saya belum
menikah sampai sekarang, menikah membuat saya takut, takut melihat
teman-teman anak saya akan meniduri istri saya nanti, atau malah melihat
anak saya nungging di belakang pintu mobil pacarnya. jadi saya memilih
tidak menikah saja.
Seorang teman saya pencinta
sesama jenis mengatakan dunia ini dipenuhi darah oleh perang akan karena
perebutan lawan jenis, lihat saja cerita legenda terkenal Troy, atau di
dalam negeri cerita perang antara Majapahit dan Padjajaran yang
memperebutkan putri Pitaloka, teman saya berpendapat seharusnya konsep
pecinta sesama jenis harus diterima dengan baik, karena itu akan
mengurangi darah yang mengucur karena perang tersebut, bayangkan saya
jika 80 persen penduduk dunia ini pencinta sesama jenis, maka akan
terjadi kedamaian.
Dalam logika berpikir, sebaiknya
kita jangan membatasi kebebasan itu dengan berbagai hal, misalkan
Stalin ketika membunuh hampir 30 juta rakyatnya dengan berbagai cara,
itu sungguh menjadi tragedi yang memilukan bagi kita semua, Stalin
memang athies, sebagai bagian dari komunisme, Stalin punya logika
tersendiri dalam mengatur kekuasaannya, punya konsep sendiri yang kita
tidak mengerti bagaimana, kita tidak bisa menghukumnya sebagai seorang
yang tidak mempunyai rasa kemanusiaan, kita ingin menghakiminya dengan
logika baik dan buruk dari kemanusiaan. Jika kita pahami lebih lanjut,
kemanusiaan adalah konsep logika dari beberapa orang manusia yang
ditawarkan kepada beberapa manusia lainnya sehingga dijadikan nilai
bersama, apakah konsep kemanusiaan itu baik saya pikir itu relatif Kita
tidak bisa menghakimi konsep logika orang lain, dan orang lain juga
punya hak untuk memakai konsepnya sendiri, itu adalah bagian dari
kebebesana yang kita agungkan. bagaimana kita bisa percaya kepada
orang-orang yang telah mengkonsep rasa kemanusian? apakah mereka orang
baik? mereka manusia yang sama seperti kita.
Hal ini juga berlagu bagi konsep
HAM, tidak beda antara manusia dan binatang, binatang punya cara
berpikirnya sendiri dan kita punya cara kita sendiri sebagai manusia,
termasuk juga dalam hal ini tumbuhan juga mahluk hidup yang harus kita
hormati.
Mengenai orang yang agnostik,
teman saya sangat tidak senang dengan orang yang agnostik, dia
menganggap orang agnostik adalah pengecut, munafik, opurtunis, dan tentu
saja mereka bukan orang yang tulus, mereka ingin mencari keuntungan
dari dua sisi yang berbeda, satu sisi ingin diterima dan
bersenang-senang bersama orang athies, sisi yang lain dia menaman saham
untuk dirinya sendiri, sehingga jika ternyata neraka itu ada, mereka
masih punya satu persen saham untuk dijadikan jangan pengampuan, yaitu
percaya adanya tuhan. Mereka adalah orang munafik, seperti benalu
bermuka dua. Mereka berpikir lebih pintar dari pada Tuhan, orang
agnostik bisa mengatur Tuhan, jika tuhan ada tuhan pasti mengutuknya.
Jangankan Tuhan, saya sendiri saja tidak mau diatur oleh anak buah saya,
tapi kita juga harus menghormati pilihan seseorang, saya menghormati
agnostis, meski tetap hati-hati terhadap mereka.
Saya berharap anak muda
penjujung kebebasan lebih berani untuk bebas, dia harus berani
bereksperimen dan berkorban, ketika kita berani tidur dengan ibu teman
kita, kita akan merasa semakin menyayangi teman kita karena kita seperti
ayah bagi mereka, logikanya menjadi begitu menyenangkan. Ketika terjadi
perang, para prajuit akan menjadi berdamai dengan seks bersama, hal-hal
ini sangat kita nantikan, karena mungkin penjunjung kebebasan bisa
lebih baik dari pada saya, bisa jadi dia akan jadi pahlawan bagi bangsa
ini, mungkin menjadi nabi, kebebebasan seks bisa setara dengan agama
sekarang ini. Kita juga harus menemukan hal-hal transeden dalam seks,
bukan hanya seperti makan minum diatas tadi.
Kebudayaan barat sekarang sudah
mulai rentan, kebebasan sedang menjadi jalan keluar, kita harus bahu
membahu-bahu menemukan jawaban dari kebebasan kita, kita harus menemukan
kedamaian dan kesenangan itu.
Cerita diatas adalah sebuah fiksi nyata yang dibalut narasi, tentang perjalan kisah hidup seorang wanita Indonesia selama dia menganut konsep kebebasan di Eropa.


